Bab 8
Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kemiskinan
Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Kemiskinan
1. Ilmu Pengetahuan
Dikalangan ilmuwan ada keseragaman pendapat, bahwa ilmu itu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur yang diperoleh dengan pangkal tumpuan (objek) tertentu dengan sistematis, metodis, logis, empiris, umum, dan akumulatif.
Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah. Sikap yang bersifat ilmiah itu meliputi 4 hal, yaitu:
1. Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih
2. Selektif
3. Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang dapat diubah
4. Merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori, maupin aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali
2. Teknologi
Dalam konsep yang pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara
akademis dapatlah dikatakan, bahwa ilmu pengetahuan (body of knowledge),
dan teknologi sebagai suatu seni (state of art) yang mengandung
pengertian berhubungan dengan proses produksi; menyangkutcara bagaimana
berbagai sumber, tanah, modal, tenaga kerja dan keterampilan
dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi. “Secara konvensional
mencakup penguasaan dunia fisik dan biologis, tetapi secara luas juga
meliputi teknologi sosial, terutama teknologi sosial pembangunan (the
social technology of development) sehingga teknologi itu adalah metode
sistematis untuk mencapai setiap tujuan insani.” (Eugene Staley,
1970).
Teknologi memperlihatkan fenomenanya dalam masyarakat sebagai hal
impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia
menjadi lingkup teknis. Jacques Ellul dalam tulisannya berjudul “The
Tech• nological Society” (1964) tidak mengatakan teknologi tetapi
teknik, meskipun arti atau maksudnya sama. Menurut Ellul istilah teknik
digunakan tidak hanya untuk mesin, teknologi atau prosedur untuk
memperoleh hasilnya, melainkan totalitas motode yang dicapai secara
rasional dan mempunyai efisiensi (untuk memberikan tingkat
perkembangan) dalam setiap bidang akti.vitas
manusia. Batasan ini bukan bentuk teoritis, melainkan perolehan dari
aktivitas masing• masing dan ob=ervasi fakta dari apa yang disebut
manusia modern di&ugan perlengkapan tekniknya. Jadi teknik
menurut Ellul adalah berbagai usaha, metode dan earn untuk
memperoleh basil yang sudah distandardisasi dan diperhitungkan
sebelumnya.
1. Rasionalitas, artinya tindakan spontak oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional
2. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah.
3. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksankaan serba otomatis. Demikian pula dengan teknik mampu mengelimkinasikan kegiatan non-teknis menjadi kegiatan teknis.
4.Teknis berkembang pada suatu kebudayaan
5.Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung.
6.Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan.
7.Otonomi, artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
Ellul menggambarkan luasnya bidang teknik sebagai berikut:
1. teknik meliputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang-barang industri
2. teknik meliputi bidang organisasi, seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum & militer
3. teknik meliputi bidang manusiawi, seperti pendidikan, kerja, olahraga, hiburan dan obat-obatan
3. Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Nilai
Ilmu pengetahuan dan teknologi sering dikaitkan dengan nilai atau moral. Hal ini besar perhatiannya tatkala dirasakan dampaknya melalui kebijaksanaan pembangunan, yang pada hakikatnya adalah penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penerapan ilmu pengetahuan khususnya teknologi sering kurang memperhatikan masalah nilai, moral atau segi-segi manusiawinya. Keadaan demikian tidak luput dari falsafah pembangunannya itu sendiri, dalam menentukan pilihan antara orientasi produksi dengan motif ekonomi yang kuat, dengan orientasi nilai yang menyangkut segi-segi kemanusiaan yang terkadang harus dibayar lebih mahal.
Ilmu dapatlah dipandang sebagai produk, sebagai proses, dan sebagai paradigma etika (Jujun S. Suriasumantri, 1984 ). Ilmu dipandang sebagai proses karena ilmu merupakan hasil darikegiatan sosial, yang berusaha memahami alam, manusia dan perilakunya baik secara individu atau kelompok.
Apa yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, merupakan hasil penalaran (rasio) secara objektif. Ilmu sebagai produk artinya ilmu diperoleh dari hasil metode keilmuwan yang diakui secara umum dan universal sifatnya. Oleh karena itu ilmu dapat diuji kebenarannya, sehingga tidak mustahil suatu teori yang sudah mapan suatu saat dapat ditumbangkan oleh teori lain. Ilmu sebagai ilmu, karena ilmu selain universal, komunal, juga alat menyakinkan sekaligus dapat skeptis, tidak begitu saja mudah menerima kebenaran.
llmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh pengetahuan yang disusunnya yaitu: ontologis, epistemologis dan aksiologis.
Epistemologis seperti diuraikan di muka, hanyalah merupakan cara bagaimana materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh pengetahuan.
Ontologis dapat diartikan haklikat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahannya. Atau dengan kata lain ontologis merupakan objek formal dari suatu pengetahuan.
Komponen Aksiologis adalah asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu pengetahuan. Ketiga komponen ontologis, epistemologis dan aksiologis tersebut erat kaitannya dengan nilai atau nilai moral.
4. Kemiskinan
Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh.
Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai inspirasi dasar dan perjuangan akan kemerdekaan bangsa, dan motivasi fun• damental dari cita-cita menciptakan masyarakat adil dan makmur.
Garis kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal:
1.persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan,2. posisi manusia dalam lingkungan sekitar,
3. kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi.
Ciri-Ciri yang termasuk kedalam hidup dibawah garis kemiskinan yaitu:
1. tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, keterampilan, dsb.
2. tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri. seperti untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha.
3. tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat sekolah dasar karena harus membantu orang tua mencari tambahan penghasilan.
4. kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas (self employed), berusaha apa saja,
5. banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai keterampilan.
Menurut orang umum, kemiskinan dapat digolongkan menjadi 3, yaitu:
1. kemiskinan yang disebabkan handicap badaniah ataupun mental seseorang,
2. kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam, dan
3. kemiskinan buatan.
Kemiskinan menjadi suatu kebudayaan (culture of provierty) / suatu subkultur, yang mempunyai struktur dan way of life yang telah menjadi turun-ternurun melalui jalur keluarga. Kemiskinan (yang membudaya) itu disebabkan oleh dan selama proses perubahan sosial secara fundamental, seperti transisi dari feodalisme ke kapitalisme, perubahan teknologi yang cepat, kolonialisme, dsb. Obatnya tidak lain adalah revolusi yang sama radikal dan meluasnya
.
Pola relasi dari struktur ini, yang urgen adalah struktur dalam soal sosial• ekonomi meskipun struktur lainnya mcnentukan.
Pola relasi dalam struktur sosial ekonomi ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1.Pola relasi antara manusia (subjek) dengan sumber-sumber kemakmuran ekonomi seperti alat-alat produksi, fasilitas-fasilitas negara, perbankan, dan kekayaan sosial. Apakah ini dimiliki, disewa, bagi-hasil, gampang atau sulit bagi atau oleh subjek tersebut.2.Pola relasi antara subjek dengan hasil produksi. Ini menyangkut masalah distribusi basil, apakah memperoleh apa yang diperlukan sesuai dengan kelayakan derajat hidup manusiawi.
3.Pola relasi antara subjek atau kornponen-komponen sosial-ekonomi dalam keseluruhan mata rantai kegiatan dengan bantuan sistem produksi
Menurut Davis, dalam teori fungsionalis dan statifikasi, kemiskinan mempunyai sejumlah fungsi:
1. Fungsi ekonomi : penyediaan tenaga untuk pekerjaan tertentu.2. Fungsi sosial : menimbulkan altruisme (kebaikan spontan) dan perasaan, sumber imajinasi kesulitan hidup bagi si kaya, sebagai ukuran kemajuan bagi kelas lain dan merangsang munculnya badan amal.
3. Fungsi kultural : sumber inspirasi kebijaksanaan teknokrat dan sumber inspirasi sastrawan dan memperkaya budaya saling mengayomi antar sesama manusia.
4. Fungsi politik : berfungsi sebagai kelompok gelisah atau masyarakat marginal untuk musuh bersaing bagi kelompok lain.

